Senin, 24 November 2008

Sebuah Ilusi Harga


Kita semua telah mengetahui bahwa harga barang-barang impor dari luar negeri meningkat harganya seiring penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar. dollar bahkan sempat menembus Rp 12.000,00. Yang paling kita rasakan sebagai dampaknya ialah harga barang-barang elektronik impor yang menjadi mahal. Sebelum terjadi pelemahan nilai rupiah terhadap dollar, sebuah laptop berharga sekitar empat juta. Setelah adanya pelemahan nilai tukar, harga laptop itu menjadi sekitar enam juta. Selisih harga yang diciptakan oleh pelemahan mata uang kita ini lumayan besar. Sehingga, sebaiknya untuk saat ini kita tunda dulu untuk mengonsumsi barang-barang impor ini.
Pernahkah kita memikirkan bahwa fenomena kenaikan harga ini ternyata membuat hukum permintaan dan penawaran yang sudah kita kenal menjadi tak berlaku? Hukum permintaan berbunyi, "Harga suatu barang/jasa akan turun jika permintaan turun, dan harga akan naik jika permintaan meningkat (syarat ceteris paribus)". Sementara hukum penawaran berbunyi, "Harga suatu barang/jasa akan naik jika penawaran barang/jasa itu sedikit, dan harga akan turun jika penawarannya meningkat (syarat ceteris paribus)". Dalam kasus kenaikan harga yang disebabkan oleh pelemahan kurs rupiah terhadap dollar maka hukum di atas tidak berlaku (karena keadaan ceteris paribus/faktor-faktor lain yang mempengaruhi harus tetap, tidaklah terjadi).
Krisis keuangan telah membuat permintaan akan barang/jasa menjadi berkurang, tapi harga barang/jasa itu justru meningkat (karena penguatan dollar). Ini diperparah dengan penurunan penawaran karena krisis finansial global (kekurangan modal usaha). Produk mereka pun menjadi sedikit yang laku di pasaran. Hasilnya, industri yang sudah goyah akhirnya ambruk. Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga. Banyak pekerja yang diberhentikan, pabrik banyak yang tutup, dan muncul masalah-masalah lain baik itu sebagai dampak langsung maupun tidak langsung. Krisis di dunia non real (pasar saham) ternyata telah merembet ke dunia yang real.
Di Indonesia permintaan terhadap barang-barang impor relatif sedikit tetapi harga-harga barang tersebut melambung tinggi sekali.
Akhirnya, kita dapat menyimpulkan bahwa harga-harga yang berlaku sekarang (terutama yang berasal dari impor) tidak mencerminkan jumlah permintaan dari para konsumen, suatu ilusi harga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen ya! makasih kakak

Naik Motor dan Kehamilan

Buat pasangan yang sedang berusaha memiliki momongan, tulisan ini mungkin terkesan mengada-ada. Tapi buat saya pribadi, tulisan yang ...