Senin, 21 Maret 2011

Kaya dengan Cara Licik



Banyak di antara kita yang susah nyari kerjaan, susah cari uang, ga bisa makan karena miskin dan banyak keluhan . Sebenarnya hal-hal tersebut, menurut saya, tidak akan terjadi bila saja kita memiliki otak yang licik. Lho, licik gimana maksudnya? apakah licik itu sama dengan korupsi, nyuri dan sejenisnya? Tidak, licik di sini bukan seperti itu. Saya mengamati sendiri dan merasakan ketakjuban dengan kelicikan-kelicikan yang terjadi di sekitar saya. Utamanya ketika saya masih berkuliah di STAN. Ketika itu kami hanya bisa sekolah gratis namun tidak ada uang saku (kec mahasiswa tingkat akhir) sehingga kami harus menanggung biaya hidup sendiri. Beruntung saya punya orangtua yang mampu memberikan saya uang makan dan kos tiap bulannya Tapi beberapa teman saya melakukan hal-hal yang menurut saya sangat kreatif bin licik yang membuat saya kagum. Mereka bisa menghasilkan uang saat kuliah dengan kelicikan yang dimilikinya.
Seorang teman saya yang bernama Andreas, kini bekerja di salah satu lembaga tinggi negara, adalah seorang teman yang paling licik menurut pengamatan saya. Bagaimana tidak? dengan hanya bermodalkan kelicikan saja ia sanggup menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya dari satu "bisnis" saja. Salah satu bisnisnya itu adalah menyediakan jasa nonton Live acara TV, semisal Kick Andy, Democrazy, dan sejenisnya, yang banyak menyediakan kursi tamu dalam acaranya. Dengan jabatan yang didapat semasa menjadi humas BEM dia begitu pandai merancang bisnisnya sendiri. Saat menjadi humas BEM dia bisa mendapat kontak person orang dalam Kick Andy show, sehingga ketika dia memutuskan untuk keluar dr BEM dia mendirikan usaha penyedia jasa mengantarkan mahasiswa yang ingin nonton live Kick Andy secara live di Metro TV.  Dengan beberapa kaki tangannya yang disebar di beberapa jurusan di STAN, dia selalu penuh pelanggan, setiap hari Rabu pasti banyak yang berminat menonton live acara Kick Andy sehabis kuliah, sekitar jam 5 sore. Para "kliennya" membayar sekitar 10 ribu rupiah untuk satu tiket menonton dengan fasilitas kendaraan menggunakan metromini, satu buku gratis (hadiah dari Kick Andy) dan asuransi (ga jelas asuransi apaan, katanya jaminan akan diantar walau ada masalah dijalan??). Dengan semua fasilitas itu bisa dibilang semua pelanggannya terpuaskan karena cukup membayar 10 ribu saja, apalagi terkadang bisa berfoto bersama MC-nya, dan masuk TV euy...
Andreas sering menawari saya nonton secara gratis namun saya malas mengikuti ajakannya, saya cuma sering meminta hadiah buku yang pasti selalu dibagikan dalam acara Kick Andy. Beliau memanfaatkan semuanya yang bisa dimanfaatkan, bahkan buku-buku hadiah dari Kick Andy yang berlebih dikirimkan ke kampungnya di Solo untuk kemudian dijual lagi dengan harga yang lebih murah dari toko. Menurut saya, Andreas benar-benar mahasiswa jenius, dia bisa membaca peluang dan mengeksekusinya dengan brilian. Selain dia mendapatkan keuntungan material beruapa uang, dia juga sering menyumbangkan sisa lebih buku-buku bagus (hadiah dari Tv Show tersebut) ke anak-anak pemulung di lapak mereka.
Bisnisnya yang lain yaitu jasa bimbel USM STAN yang dibuatnya pada saat menjelang ujian penerimaan mahasiswa STAN. Lagi-lagi dia bertindak "licik" ala gangster yang bisa memanfaatkan segala celah/peluang untuk mendapatkan uang. Dia mencari rekan-rekan yang menurutnya mampu dijadikan tentor bagi murid kursusnya yang ingin masuk STAN.Bisnisnya yeng terakhir saya ketahui ialah kemitraannya dengan lembaga investasi/broker, keuntungan akan didapat bila dia bisa mengajak orang untuk menjadi nasabah broker tersebut. Dia mengajak temannya yang ahli dalam permainan saham untuk meladeni permintaan broker tersebut. Oh iya, sebagai informasi si Andreas ini memang sudah sering berlatih main saham juga tapi secara virtual. Dia sering ikut perlombaan saham, sehingga hal inilah yang membuat dia direkrut broker atas rekomendasi seorang dosen (bayangkan seorang dosen pun dng "liciknya" dijadikan penambah pundi-pundi tabungannya)
Alhasil dari segala perniagaan itu, dia tidak pernah kekurangan uang saat kuliah di STAN, bahkan dia yang mengirimi ibunya uang.
Tribute to Andreas, my friend...
Teman saya yang lain yaitu David, dia juga bekerja di instansi yang sama seperti Andreas, namun daerah kerjanya berbeda. Kelicikannya si David ini salah satunya adalah jualan pulsa elektrik dengan harga bersaing sekali dengan konter-konter di lingkungan kampus. Dengan modal jaringan pertemanannya yang cukup luas, dia bisa menghasilkan lumayan uang untuk uang makan tiap bulan. Tidak cuma jualan pulsa saja, David juga membuat "mini" Warnet di kosannya. Dia membeli modal berupa Wi-Fi antena dengan langganan tiap bulannya 100.000 rupiah. Kemudian dia menyewakan sinyal wi-finya ke teman-teman kosnya seharga cuma 2ribu/jam. David berusaha memaksimalkan keuntungan dari jaringan internetnya itu, dia menjual request unduhan software bagi teman-teman yang ingin mendownload software tertentu. Per ukuran MegaByte dihargai sekian ribu rupiah. Dari hasil warnetnya itu, dia mengaku mendapatkan keuntungan berupa tertutupinya biaya langganan internetnya tiap bulan, jadi dia bisa berinternet ria secara gratis, bahkan mendapat pemasukan tambahan. Tapi david bukan seorang pengusaha yang berpegang teguh pada prinsip bisnis is bisnis, karena ketika saya menyewa jasanya untuk mengunduh file dia menolak dibayar.
Begitulah sekelelumit kisah tentang teman saya yang licik. Mungkin masih banyak yang licik di kampus saya, tapi saya tidak mengenal secara dekat misalnya kisah seorang mahasiswa dari jurusan pajak yang sanggup menggandakan puluhan juta rupiah uangnya menjadi ratusan juta dalam permainan saham, kisah adik kelas penjual donat dan snack yang tidak malu menaruh dagangannya ke kos-kos, dan sebagainya. Bagi saya, mereka adalah sumber inspirasi besar.
Teman-teman saya yang lain banyak berjualan jasa dengan menjadi pengajar di bimbel yang sudah berdiri di sekitar kampus, namun menurut saya mereka tidak selicik kedua teman saya tersebut di atas, karena mereka harus bekerja keras, pulang malam hanya untuk bayaran yang sedikit sekitar 200rb per bulan. Mereka tidak selicik Andreas dan David.
Begitulah, jika ingin mencari rejeki memang kita harus bisa licik, namun lick dalam arti pandai memanfaatkan celah/peluang bisnis dan berani mengeksekusinya. Jika kelicikan hanya ada dalam angan-angan kita maka kita selamanya hanya akan menjadi orang-orang biasa, Saya pun mengakui untuk menjadi orang licik itu sangat sulit, butuh kepandaian membaca peluang, ketekunan, kesabaran, dan tentu saja percaya diri.
(disadur dari jangankuatir.wordpress.com)

Naik Motor dan Kehamilan

Buat pasangan yang sedang berusaha memiliki momongan, tulisan ini mungkin terkesan mengada-ada. Tapi buat saya pribadi, tulisan yang ...