Sabtu, 25 Februari 2012

Hipotesis Baru mengenai Remunerasi (Dukung Remunerasi yang Merata)

Beberapa waktu lalu, para buruh di Bekasi melakukan pemblokiran jalan tol yang mengakibatkan kemacetan parah. Banyak yang setuju/mendukung aksi tersebut karena memahami kehidupan para buruh yang menjadi sapi perah perusahaan, namun banyak juga yg menentang dan memprotes aksi tersebut karena sangat merugikan pihak lain yang tidak terlibat dengan kondisi para buruh. Sebenarnya aksi memblokir jalan bisa dikatakan akibat para buruh tersebut melihat adanya ketidakadilan yang dialami mereka ketimbang para pengguna jalan yang mayoritas menggunakan mobil pribadi. Agaknya kecemburuan sosial menjadi pertimbangan mereka melakukan aksinya di jalan tol selain untuk mengundang pemberitaan media karena jalan tol merupakan fasilitas umum yang cukup vital.
Aksi Pemblokiran Tol oleh Buruh (Foto: vivanews.com)
Apa yang diinginkan oleh para buruh tersebut adalah mempertahankan kenaikan Upah mereka yang sebesar Rp. 1,4  juta. Asosiasi pengusaha yang sebetulnya telah menandatangani persetujuan UMK sebesar itu belakangan menggugat nilai tersebut. Padahal angka 1,4 juta saja masih jauh dari harapan buruh yg semula ingin berupah Rp 2,4 juta/bulan.

Kasus di atas menimbulkan pertanyaan mengapa umumnya para pemberi kerja menolak kenaikan Upah Minimum? Apakah faktor hitung-hitungan laba rugi saja yang menjadi pertimbangan?
Banyak ekonom percaya kenaikan upah minimum akan mengurangi kesempatan kerja di antara para pekerja dengan keahlian dan pengalaman yang rendah (dalam kasus ini adalah buruh tersebut) untuk menekan biaya produksi. Namun studi yang dilakukan ekonom David Card, Lawrence Katz, dan Alan Krueger justru menyatakan kebalikannya. Studi yang mereka laporkan mengejutkan kita. Mereka meneliti penerimaan tenaga kerja yg dilakuakan oleh Resto cepat Saji di New Jersey ketika kota itu menaikkan UMR-nya. Kenaikan UMR di resto cepat saji New Jersey dibandingkan dengan UMR di kota Prnnsylvania yang relatif tetap saat itu. Menurut teori standar, kesempatan kerja di resto-resto New Jersey seharusnya menurun dibandingkan dengan kesempatan kerja di resto2 Pensylvania. Berlawanan dengan hipotesis itu, data menunjukkan bahwa kesempatan kerja justru meningkat di resto2 New Jersey! 

Hipotesis Kontroversial
Pandangan baru ini masih kontroversial, dan banyak yang mempertanyakan keandalan data yang digunakan. Namun hipotesis ini diterapkan pada era Presiden Clinton dengan mendukung kenaikan upah minimun nasional.

Remunerasi ala Henry FORD
Pada tahun 1914 ford Motor mulai membayar pekerjanya $5/hari. karena upah pada saat itu antara $2 - $3 per hari, maka upah Ford ini berada di atas tingkat upah rata2. Oleh karenanya banyak orang yang mengantre untuk menjadi karyawan krn mengharapkan bisa menikmati upah yg tinggi.
Apa motif Ford saat itu? Henry Ford menulis "Kami ingin membayar upah sebesar ini agar perusahaan berada di atas pondasi yang tahan lama. Kami membangun untuk MASA DEPAN. Perusahaan dengan upah rendah selalu tidak aman....bayaran $5/hari untuk 8 jam kerja adalah SALAH SATU PEMOTONGAN BIAYA TERBAIK yang pernah kami lakukan!"
Logo Ford Motor
Dari sudut pandang tradisional, penjelasan Ford terlihat aneh, ia menyatakan upah yang tinggi sebagai biaya yg rendah? Tapi barangkali ia menggunakan upah yg tinggi untuk meningkatkan produktivitas pekerjanya.
Bukti menunjukkan bahwa membayar upah yang tinggi akan menguntungkan perusahaan. berdasarkan laporan yg ditulis saat itu, "Upah yg tinggi Ford sejalan dengan seluruh inersia dan tekanan kekuatan kehidupan...Para pekerja benar-benar terpacu dan bisa dikatakan sejak hari terakhir tahun 1913 setiap hari terjadi penurunan biaya tenaga kerja yang besar di bengkel Ford."
Ketidakhadiran pekerja turun 75% menyatakan kenaikan sangat besar dalam produktifitas  pekerja. Dengan menaikkan upah mereka berhasil meningkatkan disiplin para pekerja, motivasi kerja meningkat, menjadikan mereka lebih setia pada institusi dan meningkatkan efisiensi pribadi mereka. 
Disisi lain, dampak tidak langsung dari kenaikan UMR/Gaji (istilahnya remunerasi) adalah permintaan jumlah tenaga kerja karena dengan produktifitas yg meningkat, dapat diciptakan pertumbuhan laba yang besar. Dan mungkin itulah alasan mengapa studi David Card, Lawrence Katz, dan Alan Krueger menyebutkan dengan menaikkan upah maka permintaan pekerja akan meningkat juga alias Pengangguran akan berkurang pada akhirnya!.

Dampak terhadap Inflasi
Kenaikan pendapatan secara nasional akan secara otomatis menimbulkan inflasi yang semakin tinggi pula. namun sebenarnya ini dapat dikurangi dengan penciptaan kebijakan peningkatan jumlah tabungan sehingga uang yang beredar tidak terlalu banyak yang dapat menyebabkan Inflasi tinggi. Tentu hal ini tidak mudah karena kecenderungan orang yang gaji/upahnya meningkat maka konsumsinya juga bertambah. 
(Tulisan ini mengacu dan/atau mengutip buku Teori Makroekonomi: N. Gregory Mankiw-Harvard university)

Jumat, 24 Februari 2012

Siapa Terlibat Century?

Kasus Bank Century diawali dari permintaan Bank Indonesia agar pemerintah memberikan dana talangan (bail out) untuk menyelamatkan bank Century. BI sebagai pengawas bank-bank yang ada di Indonesia berpendapat bahwa bank Century harus diselamatkan, jika tidak maka sistem perbankan di Indonesia bisa kolaps (berdampak sistemik) dan itu tentu akan mempengaruhi perekonomian negara ini. Atas permintaan tersebut digelarlah rapat bersama antara beberapa pihak diantaranya BI dengan Kementerian Keuangan dengan membentuk Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau (KSSK) untuk membahas apakah Bank Century memang layak untuk diselamatkan karena sebenarnya bila dilihat Bank ini hanyalah bank kecil. Setelah rapat yang panjang (hingga subuh) Sri Mulyani selaku bendahara umum negara menandatangani persetujuan untuk mengucurkan dana talangan kepada bank century. Meskipun demikian jumlah dana yang disetujui oleh SMI hanya sebesar Rp 632 M. Namun pada kenyataannya, jumlah dana pemerintah yang cair sejumlah Rp6,7 triliun dikucurkan melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kepada Bank Century. Jumlah itu lebih besar dari plafon anggaran yang disetujui DPR yaitu hanya sebesar Rp1,3 triliun.

Bank Indonesia menyatakan tidak ada yang salah dengan pencairan dana  dan berargumen bahwa proses penyelamatan Bank Century telah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam UU LPS dan perintah dari komite stabilitas sistem keuangan. 
Benarkah Kasus Century melibatkan para pejabat tinggi negeri ini? Bukti-bukti apa saja yang sudah ditemukan? Silakan download secara gratis artikelnya edisi SUPLEMEN Jumat 23 Feb 2012 (versi PDF)!

Naik Motor dan Kehamilan

Buat pasangan yang sedang berusaha memiliki momongan, tulisan ini mungkin terkesan mengada-ada. Tapi buat saya pribadi, tulisan yang ...