Rabu, 14 Oktober 2009

Hakikat Kecelakaan

Kecelakaan, dapat terjadi pada siapa saja. Pada saya, Anda, atau mereka yang sudah ahli sekalipun. Kecelakaan adalah sebuah peristiwa/kejadian yang tidak diinginkan oleh siapa pun dan sifatnya tidak disengaja/insidentil. Setiap detik yang akan datang tidak dapat kita tebak akan terjadi apa, oleh karenanya kecelakaan tidak dapat kita hindari meski telah berhati-hati. Ada beberapa penyebab yang rasional yang bisa menjelaskan mengapa sebuah kecelakaan dapat terjadi. Biasanya penyebab suatu kecelakaan bukan cuma satu namun akumulasi dari banyak hal. Faktor-faktor tersebut, selain karena memang kuasa tuhan, juga disebabkan antara lain: Kelelahan yang menyebabkan lalai, hal tidak normal muncul, dan ketidakmampuan teknis. Masalah kelelahan bisa terjadi bila kita memorsir tenaga tanpa istirahat yang cukup. Hal tidak normal misalnya mesin yang tiba-tiba rusak, rem yang tiba-tiba tidak pakem untuk mengerem, dan sejenisnya. Ketidakmampuan teknis maksudnya orang yang tidak mampu mengendalikan benda yang berpotensi menyebabkan kecelakaan, semisal tidak bisa menyetir tapi nekat mengendarai mobil di jalan raya.

Malcolm Gladwell, dalam bukunya Outliers, menyebutkan bahwa kecelakaan, selain disebabkan hal-hal yang telah saya sebutkan, ternyata dapat juga dipengaruhi oleh budaya yang dianut subjek yang mengalami kecelakaan. Budaya hormat-menghormati dan sopan santun bisa mencelakakan kita jika dilakukan pada waktu yang tidak tepat. Malcolm mencontohkan berbagai peristiwa kecelakaan pesawat, disebutkan salah satunya sebagai akibat warisan budaya. Jatuhnya pesawat Korean Airlines 801 di Nimitz Hill, Guam, dikatakan karena adanya budaya Korea dalam hal komunikasi yang tidak to the point pada pangkal masalah ada. Orang Korea, seperti kebanyakan orang Asia, memiliki rasa hormat yang besar pada orang yang lebih tinggi derajatnya, atau lebih tua umurnya, atau pun hal lain yang membuat kita merasa perlu untuk menghormati orang tersebut. Oleh karena itu, dalam berkomunikasi dengan orang yang dihormati, mereka biasa memakai bahasa yang diperhalus, atau bahasa yang tidak lugas. Hampir seperti dalam bahasa jawa, pada bahasa korea pun terdapat beberapa tingkatan bahasa yang dipakai pada kondisi yang berbeda-beda yakni: formal, informal, terbuka, akrab, intim, dan datar. Sebenarnya, dalam kehidupan sehari-hari budaya itu sangat baik untuk diaplikasikan, namun tidak bila digunakan dalam penerbangan pesawat yang sedang mengalami keadaan darurat seperti yang terjadi pada pesawat Korean Air tersebut. Korean Air terperangkap badai sehingga tidak mampu melihat landasan secara visual. Oleh karenanya mereka mengandalkan radar atupun sinyal dari bandara. Sayangnya, sikap menjaga kesopanan disinyalir menyebabkan pesawat itu menabrak Nimitz Hill. Copilot Korean Air merasa wajib menjaga tutur katanya pada pilot karena pilot dianggap memiliki kedudukan lebih tinggi/senior. Akibat tutur kata halus dan tidak tegas, pesawat itupun hancur berkeping-keping. Copilot juga tidak berani menegur pilot yang salah dalam mengambil tindakan. Pilot dibiarkan menangani masalah darurat seorang diri.

Faktor budaya juga menimbulkan korban pada pesawat lain semisal pesawat Kolombia Avianca dengan nomor penerbangan 052 yang jatuh di bulan Januari 1990. Pesawat yang sebetulnya ingin mendarat di New York, akhirnya terjatuh di Long Island karena kehabisan bahan bakar. Tujuh puluh tiga dari 158 penumpangnya meninggal dunia. Selain faktor kelelahan dari sang pilot dan cuaca yang buruk, ketidaktegasan co pilot disebut oleh Malcolm sebagai alasan utama jatuhnya pesawat. Malcolm memberikan transkrip percakapan dari Avianca 052 sebelum jatuh, untuk menunjukkan contoh sopan santun dalam berkomunikasi yang tidak tepat, fokuskan pada perkataan copilotnya:

Pilot: Landasannya di mana? Aku tidak bisa melihatnya. Aku tidak bisa melihatnya.

(mengeluarkan roda pesawat. Pilot berkata kepada copilot untuk meminta pola lalu lintas

lainnya. Sepuluh detik berlalu)

Pilot: Bahan bakar kita tidak cukup…(seperti berbicara pada diri sendiri)

(Tujuh belas detik berlalu saat para pilot memberi instruksi pada rekannya)

Pilot: Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan landasannya. Aku tidak bisa melihatnya.

Copilot: Saya tidak bisa melihatnya.

(Air Traffic Control masuk dan memerintahkan untuk membelokkan pesawat ke kiri)

Pilot: Katakan pada mereka bahwa kita dalam keadaan darurat!

Copilot (kepada ATC): Kini kami mengarah ke satu-delapan nol dan, ah, kami akan

mencobanya kembali. Kami kehabisan bahan bakar.

Pilot: Apa yang dikatakan olehnya?

Copilot: Saya sudah memberitahunya bahwa kita akan berusaha mendarat kembali karena

sekarang kita tidak bisa…

(hening empat detik)

Pilot: Beritahu kepadanya bahwa kita berada dalam keadaan darurat.

(hening empat detik kembali)

Pilot: Apa kamu sudah mengatakan kepadanya?

Copilot: Ya Pak. Saya sudah mengatakan kepadanya.

(Copilot mulai berkomunikasi dengan ATC)

Copilot: Satu-lima-nol mempertahankan ketinggian dua ribu Avianca nol-lima-dua berat.

(Pilot terdengar mulai panik)

Pilot: Beritahu kepadanya bahan bakar kita sudah habis.

Copilot (kepada ATC): Terus naik dan mempertahankan ketinggian tiga ribu dan, ah,

kami kehabisan bahan bakar, Pak.

Pilot: Apa kamu sudah mengatakan kepadanya kalau kita sudah kehabisan bahan bakar?

Copilot: Ya, Pak. Saya sudah mengatakannya kepadanya…

Pilot: Bueno.

(satu menit berlalu)

ATC: Dan Avianca nol-lima-dua berat, ah, aku akan mengarahkan Anda ke lima belas

mil sebelah timur laut dan kemudian mengarahkan Anda kembali untuk mendarat. Apakah hal itu bisa diterima bagi Anda dan kondisi bahan bakar pesawat?

Copilot: Kurasa begitu. Terima kasih banyak.

Flight engineer: Api padam di mesin nomor empat!

Pilot: Tunjukkan landasan kepadaku!

(hening tiga puluh detik)

ATC: Apa Anda, ah, Anda memiliki cukup bahan bakar untuk sampai ke bandara?

Transkip berakhir di sini…

Dari percakapan di atas disimpulkan bila seandainya Copilot berkata langsung kepada ATC bahwa mereka harus segera mendarat karena kehabisan bahan bakar maka kemungkinan kecelakaan pesawat dapat dihindari. Dengan bahasa yang tidak tegas, diperhalus itu, ATC mengira tidak ada masalah serius yang terjadi pada Avianca karena semua pesawat yang akan mendarat pasti kehabisan bahan bakar. Seharusnya yang dikatakan copilot pada petugas di ATC adalah pesawat dalam kondisi darurat dan harus segera mendarat karena bahan bakar habis.

Inti yang ingin disampaikan Malcolm Gladwell pada Bab “Teori Etnik mengenai Jatuhnya Pesawat” ialah bahwa dalam keadaan tertentu mutlak diperlukan komunikasi yang jelas dan tegas. Budaya kiasan tidak boleh dipakai dalam kegiatan yang memakai standar operasi yang ketat. Kecelakaan memang takdir yang harus diterima manusia namun dibalik peristiwa tersebut dapat kita ambil hikmahnya. Hikmah tersebut perlu kita pikirkan agar kecelakaan yang sejenis tidak terjadi untuk kedua kalinya. sumber: Outliers-Malcolm Gladwel (copyright@ve08.blogspot.com "Hakikat Kecelakaan")


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen ya! makasih kakak

Naik Motor dan Kehamilan

Buat pasangan yang sedang berusaha memiliki momongan, tulisan ini mungkin terkesan mengada-ada. Tapi buat saya pribadi, tulisan yang ...