Sabtu, 14 Maret 2009

Bangsa Pecinta Sinetron


Bocah cilik itu masih tampak serius mengamati layar kotak berukuran sekitar 21 inchi itu. Dia duduk di atas kasur yang digelar di lantai lengkap dengan bantal dan guling. Tampak pembicaraan di televisi, tidak jelas karena memakai bahasa arab. tiduran disampingnya, ibu dan anak kompak menikmati tontonan itu.
Yang memprihatinkan, cerita di sinetron itu ditujukan untuk golongan dewasa namun ditayangkan saat jam anak-anak biasanya masih menonton TV. Di jam ini tidak ada alternatif tontonan lain yang ditawarkan bagi anak-anak, hampir semuanya diisi oleh sinetron. Mungkin pihak televisi menganggap pada jam segitu anak-anak akan menunaikan tugasnya yakni belajar. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang kurang suka belajar? Terlebih bila tidak ada dorongan dari orangtua agar anaknya belajar. Apakah pikiran mereka yang masih lugu harus diracuni dengan tontonan vulgar itu?
Kebanyakan tema yang diangkat sinetron kita adalah tentang percintaan. Pihak production house berusaha mencari untung yang sebesarnya dengan memproduksi sinetron-sinetron berbiaya murah namun disukai penonton. Sinetron membanjiri layar kaca. Kita dapat menyaksikan sinetron setiap hari, dari senin hingga minggu, nonstop. Bahkan ada sebuah stasiun televisi swasta yang menayangkan sinetron berturut-turut dalam satu hari. Kita bisa lihat di Indosiar, di mulai dengan sinetron Muslimah saat magrib, sinetron Harem, lalu dilanjutkan dengan sinetron berikutnya yang saya tidak ketahui judulnya, terlalu malas memperhatikan. Di pagi hari pun Indosiar menyediakan sinetron yang dilengkapi nyanyian dangdut, sekilas mirip dengan film India. Belum lagi sinetron di stasiun televisi lainnya yang tayang pada jam yang sama. Anak perempuan itu menjadi penggemar sinetron-sinetron tersebut, khususnya yang di Indosiar. Pagi hari menonton sinetron, malam hari juga menonton sinetron. Hebatnya, anak kecil itu kuat menonton mulai sejak magrib hingga sekitar pukul sepuluh malam. Orangtuanya cuek saja melihat anaknya tidak belajar. Terkadang ia belajar sambil menonton (lebih tepatnya menonton sambil belajar). Nikmat sekali menonton sinetron sampai ketiduran. Kadang-kadang ibunya berbincang-bincang dengan anak itu mengomentari tokoh di sinetron yang sedang mereka tonton. Pernah disuatu saat, seorang anaknya yang laki-laki ingin menonton Liga Super Indonesia, ia harus beradu mulut dengan ibu dan adik perempuannya, pada akhirnya ia menyerah juga sembari menerima omelan.
Inilah secuil potret anak-anak jaman sekarang, terutama para perempuan, yang doyan nonton sinetron. Apakah para pemimpin bangsa tidak peduli dengan gejala ini? Memang ada yang diuntungkan, tetapi lebih banyak yang dirugikan secara tidak langsung. Di satu sisi, banyak orang kaya baru bermunculan dari hasil bermain sinetron, di sisi lain moral anak-anak tergerus tiap hari. Dampak sinetron tidak akan langsung tampak melainkan dalam jangka waktu yang lama.
Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi wabah sinetron ini? Yang pertama tentu saja kita memerlukan bantuan pihak stasiun televisi. Seharusnya, para stasiun televisi jangan terlalu mengumbar sinetron, apalagi cerita yang ditawarkan norak sekali. Peran orangtua juga harus lebih keras dalam mendidik anak. Jangan sampai anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya. Sungguh sedih melihat anak yang masih SD sudah senang melihat sinetron ataupun drama percintaan. Bagaimana kelanjutan nasib bangsa Indonesia? Akankah menjadi bangsa pecinta sinetron?
Copyright@ve08.blogspot.com_”Bangsa Pecinta Sinetron”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen ya! makasih kakak

Naik Motor dan Kehamilan

Buat pasangan yang sedang berusaha memiliki momongan, tulisan ini mungkin terkesan mengada-ada. Tapi buat saya pribadi, tulisan yang ...