Selasa, 14 April 2009

Politik itu Busuk!

Politik, dari katanya berarti cara untuk mendapatkan kekuasaan dengan jalan apapun.
Politik sering dipakai untuk menguasai suatu negeri bahkan negara lain.
Di Indonesia, sejarah politik cukup panjang. Mulai dari devide et empera-nya Belanda untuk memecah belah sampai politik era reformasi.
Darah pernah membasahi sejarah politik Indonesia. Dimana orang-orang dikorbankan,dibunuh untuk politik. Kita tak mungkin lupa dengan pembunuhan para jendral yg penuh muatan politis.
Saat ini politik juga dijalankan oleh sejumlah partai yang mengaku partai Islam. Apa beda partai Islam dengan partai lainnya? Menurutku sama saja!
Kita bisa lihat sebuah contoh Partai Pojok Kanan Atas (PKA-nama samaran).
Partai ini katanya partai Islam. Namun, dalam tempointeraktif.com partai PKA ternyata mengusung dua caleg dari kalangan non islam yang profesinya pendeta. Ini bukan masalah agama, tapi masalah konsistensi landasan politik. Janganlah mengaku partai Islam hanya untuk menarik simpati umat muslim. Partai ini menguasai mesjid-mesjid dan menjadikannya sebagai basis massa. PKA juga melanggar peraturan kampanye dengan membagi-bagi uang yang disebar dari atas helikopter di daerah Bekasi Timur. Besarannya yg terkecil Rp. 1000. Orang-orang di bawahnya pada berebutan, bukankah itu termasuk money politics? PKA juga membawa-bawa Palestina dalam iklannya. Mereka menggembar-gemborkan sumbangan PKA pada Palestina. Saya bertanya dalam hati, niat menyumbangnya ikhlas apa tidak ya? Yang menyakitkan, partai ini mengusulkan Soeharto untuk dijadikan sebagai guru bangsa. Apa mereka merasa perlu menarik simpati para elit politik yg pro orba sehingga mengajukan usulan tersebut?
Masih banyak lagi yang menunjukkan bahwa semua politik itu busuk!
Seorang capres dari partai berlambang banteng yg mengatakan bahwa BLT itu merendahkan orang, ternyata parpolnya menggunakan BLT sebagai iklannya.
Ada juga capres yang terkenal sangat kontra dengan capres lain, ternyata belakangan dikabarkan akan berkoalisi dengannya. Padahal yang di bawah mungkin sudah baku hantam, ternyata elit politik di atas bisa dengan mudah berubah haluan. Yang paling menjijikkan ketika seorang capres dengan sangat percaya diri mencalonkan diri sambil 'merendahkan' capres lain yang notabene mantan temannya. Begitu hasil pemilu legislatif mengecewakan ia berencana berkoalisi kembali dengan capres lain yang partainya menang pemilu kemarin. Padahal dapat dikatakan kalau dia telah berkhianat. Inilah yang menyimpulkan kalo Politik itu Busuk!
Cara apapun akan dipakai untk mendapat kekuasaan. Dari luar tampak bermusuhan, ternyata belakangan jadi bersahabat untk meraih dukungan lebih banyak.
Tahun ini ada tokoh era orde baru yang mencalonkan diri menjadi capres. Ia menantu Sang Prabu Soeharto. Tokoh ini sangat agresif dalam berkampanye dan beriklan. Rp 1 trilyun telah dirogoh dari kocek pribadinya. Iklan yang ditampilkan sangat bombastis dan terlihat sangat merakyat. Tak heran jika popularitasnya langsung meroket. Orang Indonesia memang mudah lupa pada trauma masa lalu. Kalau diperhatikan dengan seksama, iklan dari tokoh itu membodohi masyarakat. Misalnya, dalam sebuah iklan ia mengatakan jika pemerintah saat ini menarik sedikit pajak dari orang kaya yang membuat rakyat tidak makmur. Kalau dianalisa, pemerintah memang mengurangi penerimaan pajaknya tahun ini. Hal itu merupakan insentif bagi kaum pengusaha/investor agar mau menanamkan modalnya. Jika ada investasi maka ada lapangan kerja, dan akhirnya kembali pada kesejahteraan rakyat. Dalam iklannya yang lain ia berkata bahwa ekonomi sekarang berpihak pada segolongan orang saja. Itu memang benar tapi apa yang bisa dilakukan untuk mengubahnya? Modal terlanjur dikuasai mereka. Mungkin benar ucapan Biksu Tong dalam serial Kera Sakti, "kosong adalah berisi, berisi adalah kos0ng".
copyright@ve08.blogspot.com "Politik itu Busuk!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen ya! makasih kakak

Naik Motor dan Kehamilan

Buat pasangan yang sedang berusaha memiliki momongan, tulisan ini mungkin terkesan mengada-ada. Tapi buat saya pribadi, tulisan yang ...